Islam Memandang Bencana dan Menyikapinya

Islam Memandang Bencana dan Menyikapinya

          Belum usai penanganan Pandemi Covid-19, kini berbagai bencana kembali menerjang negeri kita tercinta. Musibah besar banjir dan tanah longsor meluluhlantakkan saudara kita di Flores Timur, Minggu (4/4). Menjadi pertanyaan besar, bagaimana sebenarnya Islam memandang bencana dan menyikapinya?

         Merujuk pada data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 128 jiwa meninggal dunia dan 71 orang dinyatakan hilang imbas dari keganasan banjir bandang dan tanah longsor di Flores Timur, per-Selasa (6/4). Tak hanya itu, 8.424 saudara kita di sana terpaksa mengungsi karena kehilangan rumah tempat berteduh.

          Tidakkah sobat baik berpikir sejenak, menyikapi berbagai bencana yang terus berdatangan di bumi pertiwi ini. Dalam ajaran Islam, sepatutnya kita melihat segala fenomena yang terjadi di dunia ini itu semua kehendak Allah SWT. Termasuk bencana yang akhir-akhir ini sering terjadi, seharusnya kita dapat mengambil hikmah pelajaran darinya.

          Islam sebagai agama sempurna, telah banyak menyinggung perbagai persoalan bencana. Baik itu dalam kitab suci Al-Qur’an dan Hadis, maupun fatwa-fatwa para ulamanya. Sebagai Muslim yang bertakwa, sobat baik pun tentu harus arif dan bijaksana sesuai dengan syariat Islam dalam menyikapi berbagai bencana yang kini sering kita alami. Berikut ulasan bagaimana Islam memandang bencana:

         Pertama, bencana sebagai  ujian bagi orang  beriman. Dalam Islam, bencana tak selamanya berarti azab dan hukuman bagi orang-orang berdosa. Jangan sampai sobat baik menuduh bencana yang menimpa suatu kaum didasarkan pada dosa dan kemaksiatan yang mereka perbuat. Bisa jadi, bencana tersebut merupakan ujian atas keimanan dan ketakwaan mereka.

         Dalam hal ini, Allah SWT berfirman “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan ‘kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabut 29:2).

         Tentu sobat baik pun pernah belajar, dalam tarikh Islam sering disinggung beratnya cobaan yang menimpa hamba-hamba pilihan, para nabi, sahabat dan orang-orang saleh. Nabi Ayub AS misalnya, beliau mendapatkan ujian berat dari Allah SWT berupa penyakit kulit yang menyebabkan keluarnya nanah dan belatung dari sekujur tubuh. Namun Ia tak goyah dan terus sabar, hingga Allah SWT mengembalikan kembali segala kenikmatan yang ia miliki.

        Kedua, bencana sebagai  teguran atas kedurhakaan seorang hamba. Bencana yang kita alami, juga bisa berarti teguran dari Allah SWT atas kelalaian dan dosa yang sering kita perbuat. Tak jarang kita sering lupa pada Allah SWT dan asyik dengan kesibukan-kesibukan duniawi. Barang kali lewat bencana kita akan kembali insaf dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

         Dalam Surat Al-Isra Ayat 17:16, Allah berfirman, “Jika kami kehendaki menghancurkan suatu negeri, kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri ini sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra 17:16).

          Ketiga, bencana akibat ulah manusia. Pernahkah sobat baik sejenak merenung, ulah dan perbuatan kita yang terus merusak ekosistem alam. Kita ingin hidup aman dari bencana, namun masih suka membuang sampah di sungai, menebang pohon tanpa reboisasi dan merusak lingkungan. Bisa jadi inilah sebab bencana terus menimpa negeri ini, kita tak mampu merawat alam dengan baik.

         Dalam Al-Qur’an termaktub jelas sebuah peringatan, Allah SWT berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah SWT merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum Ayat 41).

(MRIM)