Transformasi dan Transparasi Digital Menuju Era Baru Fundraising di Indonesia

Transformasi dan Transparasi Digital Menuju Era Baru Fundraising di Indonesia

Munculnya pelbagai platform fundraising berbasis digital beberapa tahun ke belakang ini menjadi angin segar bagi insan amil Indonesia. Tercatat lebih dari 400 lembaga dan badan amil dalam keanggotaan Forum Zakat (FOZ), kini banyak dari mereka sudah memiliki platform crowdfunding berbasis digital. 

Platform crowdfunding berbasis digital ini misalnya sedekahonline.com dari Laznas PPPA. Daarul Qur’an, donasi.dompetdhuafa.org dari Dompet Dhuafa, nucare.id dari Laznas Nahdlatul Ulama dan banyak lainnya. Pelbagai platform crowdfunding digital ini pun banyak menyuguhkan kemudahan bagi donatur, seperti online payment yang sudah terhubung dengan ragam eWallet, go-ziswaf, kalkulator zakat dan banyak fitur menarik lainnya.

Namun, perlu digarisbawahi fitur-fitur canggih yang disuguhkan oleh pelbagai crowdfunding digital tak akan efektif tanpa adanya edukasi literasi digital bagi amil dan masyarakat luas. Di sinilah, peran kita sebagai insan amil, lembaga dan badan amil, FOZ, juga Sekolah Amil Indonesia (SAI) sangat krusial dalam memberikan edukasi literasi digital zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf) kepada masyarakat luas. 

Secara sederhana, Western Sydney University (WSU) mendefinisikan literasi digital (digital literacy) sebagai keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup, belajar, dan bekerja dalam masyarakat di mana komunikasi dan akses informasi semakin meningkat melalui teknologi digital seperti platform internet, media sosial, dan perangkat seluler. 

Dari sini dapat ditarik kesimpulan, literasi digital Ziswaf merupakan keterampilan yang harus dimiliki seorang amil untuk mengelola Ziswaf secara profesional berbasis teknologi digital. Dengan kompetensi literasi digital Ziswaf ini, transformasi dan transparasi digital dalam dunia fundraising dapat diwujudkan dengan gemilang. 

Dalam riset WSU bertajuk What is Digital Literacy, ada dua komponen penting  kunci kesuksesan literasi digital, yaitu komunikasi dan keterampilan praktis (communication and practical skills). Kedua koponen ini menurut WSU dapat mengembangkan pelbagai sektor digital, baik dalam bidang bisnis mapun gerakan sosial.

Pertama, komunikasi. Kemampuan komunikasi menjadi aspek kunci dalam fundraising berbasis digital. Saat berkomunikasi di dunia virtual, seorang amil harus mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan ide dengan jelas, mengajukan pertanyaan yang relevan, menjaga rasa hormat, dan membangun kepercayaan dengan donatur yang sama pentingnya dengan saat berkomunikasi secara langsung.

Kedua, keterampilan praktis. Fundraising berbasis digital sangat mengandalkan teknologi digital, untuk itu keterampilan praktis wajib dimiliki seorang amil dalam menggunakan teknologi untuk mengakses, mengelola, dan membuat informasi Ziswaf dengan cara etis dan berkelanjutan. Hal ini menjadi pembelajaran berkelanjutan bagi seorang amil, karena perkembangan teknologi digital sangat masif dan terus mengalami perubahan.

Sebagai penutup, penulis sangat meyakini transformasi digital dalam dunia fundraising akan mendatangkan kemajuan pesan bagi lembaga dan badan amil di Indonesia. Tak lupa, transparasi digital perlu dikembangkan pula untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap fundraising berbasis digital ini.

Klik untuk donasi https://sedekahonline.com/

MRIM