Cara Dapatkan Pahala Menghafal Qur'an Tanpa Menghafal

Allah telah menjanjikan berbagai keutamaan bagi para penghafal Al-Qur'an. Salah satunya, Allah menawarkan kedudukan yang sangat tinggi di surga. Tinggi derajatnya sama dengan banyaknya ayat yang ia hafal.

Cara Dapatkan Pahala Menghafal Qur'an Tanpa Menghafal

Allah telah menjanjikan berbagai keutamaan bagi para penghafal Al-Qur'an. Salah satunya, Allah menawarkan kedudukan yang sangat tinggi di surga. Tinggi derajatnya sama dengan banyaknya ayat yang ia hafal.

---

"Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud 1466, Turmudzi 3162 dan dishahihkan al-Albani)

Tentu, hadits di atas merupakan satu dari sekian banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah sangat memuliakan para pengahfal Al-Qur'an. Selain itu, masih banyak kebaikan yang Allah siapkan untuk ahlul Qur'an, baik di dunia maupun akhirat.

Apakah ada yang berminat untuk menghafal Qur'an? Jika belum, mungkin kita harus menyimak kisah empat orang 'Srikandi' asal Tanah Datar, Sumatera Barat. Julukan 'Srikandi' diberikan oleh warga sekitar kepada empat orang nenek-nenek yang sangat bersemangat menghafalkan Al-Qur'an. Mereka adalah Madinah (76), Jusma (73), Armahinti (50) dan Asdawis (52).

Karena kegigihan mereka, tepat pada Senin (23/12/2019) lalu, keempatnya diberikan kehormatan sebagai wisudawati dalam acara Wisuda Tahfidz Al-Qur'an Rumah Tahfidz Al-Wustho, Tanah Datar, Sumatera Barat. Aura kebahagiaan terpancar dari wajah senja mereka. Semua perhatian hadirin pun terpusat kepada mereka.

Nenek Madinah, salah satu dari mereka mengungkanpan kesungguhannya dalam menghafal Al-Qur'an. "Nenek semangat, terus menghafal dengan ustadz," ujar nenek yang sudah menghafal selama enam bulan di Rumah Tahfidz Al-Wustho tersebut.

Di usia senjanya, Nenek Madinah tidak mementingkan berapa jumlah hafalan yang dapat ia kumpulkan. Lebih daripada itu, sang nenek merasa beryukur karena dapat berkumpul bersama penghafal Qur'an, termasuk cucu-cucunya. Menurutnya, hal tersebut merupakan kebahagiaan yang tidak ada bandingannya.

Ternyata, nenek Madinah menghafal Al-Qur'an karena suatu alasan. Dalam bahasa Minangkabau, ia berkata, "menghafal, supaya nanti nenek waktu meninggal, bisalah husnul khatimah, bisa nenek moco Qur'an, insyaAllah."

Tidak kalah dengan nenek Madinah, alasan nenek Jusma menghafal Al-Qur'an pun sangat mengispirasi. Pensiunan guru tersebut mengungkapkan bahwa keinginannya untuk menghafal Al-Qur'an adalah agar dirinya meninggal dunia dalam keadaan menghafal.

"Nenek ingin meninggal dalam keadaan menghafal," ucap nenek Jusma bersemangat.

Nenek Madinah, nenek Jusma dan dua 'Srikandi' lainnya membuktikan bahwa menghafal Al-Qur'an tidak mengenal usia. Baik tua atau muda, semuanya dapat menjadi bagian dari keluarga Allah dengan cara menjadi hafizh dan hafizhah. Maka, tidak ada alasan bagi kita menunda-nunda waktu untuk menghafalkan Al-Qur'an. Selagi sempat, segera raih Qur'an kita dan mulailah menghafalkan ayat demi ayat.

Tapi, ada pertanyaan yang muncul; kalau sibuk bekerja dan mengurus rumah tangga, bagaimana bisa menghafal Al-Qur'an? Sedangkan, ingin juga dapat surga seperti penghafal Qur'an.

Maka jawabannya ada di sepenggal ceramah Syeikh Abdullah Ahmed Alshagara, syeikh asal Yaman yang juga merupakan salah seorang pengajar di Pesantren Tahfizh Daarul. "Namun, jika belum dapat menghafal Al-Qur'an dan anak-anak kita pun belum menghafalkan Al-Qur'an, maka ada cara lain yang inysaAllah sama nilainya. Yaitu, menginfakkan harta untuk membiayai orang-orang yang sedang menghafalkan Al-Qur'an, pesantren yang menjadi tempat menghafal Al-Qur'an," tuturnya.

Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk berbuat baik dan menebarkan kebaikan di muka Bumi ini. Karena hakikatnya kehidupan di dunia adalah ajang mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan abadai di akhirat.

Ingin bersedekah untuk para penghafal Al-Qur'an? Klik sedekahonline.com