Semangat Silaturahmi Bunda Hanifah

Perjalanan panjang telah ditempuh Bunda Hanifah untuk sekedar bersilaturahmi dengan pengurus PPPA Daarul Qur’an pada Jumat (5/4/2019) siang.

Semangat Silaturahmi Bunda Hanifah

Perjalanan panjang telah ditempuh Bunda Hanifah untuk sekedar bersilaturahmi dengan pengurus PPPA Daarul Qur’an pada Jumat (5/4/2019) siang. Untuk mencapai kantor pusat lembaga pembumi al-Qur’an yang berada di sentra bisnis CBD Ciledug ini, Bunda Hanifah harus berangkat pukul empat pagi dari Sukabumi, Jawa Barat menggunakan kendaraan umum. Di usianya yang tak lagi muda, Bunda Hanifah menempuh ratusan kilometer seorang diri. 

Bunda Hanifah bukan orang baru dalam geliat dakwah PPPA Daarul Qur’an. Ia mengaku telah bergabung dalam gerbong dakwah Daarul Qur’an sejak ustadz Yusuf Mansur masih menjadi penceramah dalam program rutin sebuah televisi swasta belasan tahun silam. Bunda Hanifah bahkan mengaku kerap menjadi pemandu bagi rekan-rekan jamaah lainnya asal Sukabumi untuk mengikuti pengajian sang ustadz.

“Saya mulai sama Ustadz waktu masih di TPI dan belum punya apa-apa. Tapi kita  dulu sering ke tempatnya di Ketapang, bawa jamaah. Dulu sampai ada 40 orang lebih, bahkan bisa sewa satu hingga dua bis. Kadang-kadang konvoi mobil juga,” katanya penuh semangat sambil memilah oleh-oleh. Ini memang kebiasaan Bunda. Ia membungkus satu persatu oleh-oleh yang dibawanya susah payah dari tanah asalnya, lantas masing-masing diberi nama. Semua orang yang dikenalnya mendapat bagian, bahkan ustadz Yusuf sekalipun.

Bunda juga menceritakan saat ia berkunjung ke lokasi calon tempat berdirinya Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, ia mengaku tempat tersebut masih mirip hutan. “Dulu masih rumput-rumput, kayak hutan. Jaman dulu kita tidur di tenda-tenda. Mana becek,” kenangnya.

Ia juga mengenang masa-masa kala ia mengikuti riyadhoh. Bunda mengaku menginap di tenda dan tidur menggunakan tempat tidur tentara. Ia lantas mengenang satu persatu teman seperjuangannya.

“Dulu tidur berdua-berdua. Saya sama ibu haji Oce, sama ibu Komariah. Ibu Komariah juga ada empat orang tapi sekarang sudah tinggal satu komariah yang masih hidup. Teman-teman saya sudah pada sepuh, bahkan banyak yang sudah meninggal,”katanya.

Ia juga menceritakan kenapa dirinya menyukai pengajian ustadz Yusuf. “Saya ikut pengajian Pak Ustadz karena saya suka dengan pelajarannya. Masuk otak. Bicaranya itu enak Ustadz Mansur. Jadi disenangi sama ibu-ibu di Sukabumi, bapak-bapak juga suka,” ujarnya.

Meski perjalanan Bunda Hanifah memakan waktu setengah hari, namun kunjungan dirinya tak memakan waktu lama. Pasalnya, ia harus segera berpindah tempat menuju selatan Jakarta untuk bermalam, mengumpulkan tenaga untuk kembali bersilaturahmi pada keesokan hari.

“Besok pagi saya mau ke Rangkas Bitung, ke rumah ibu Hajjah Juariyah. Ini teman saya cuma tinggal satu yang dari Banten. Dia stroke, jadi pakai kursi roda. Teman mengaji, sudah ke mana-mana, ke Istiqlal, ke Sunda Kelapa, ke Menteng. Sekarang dia sudah empat tahun tidak aktif, karena sudah di kursi roda jadi enggak bisa kemana-mana,” papar perempuan tua yang rajin hadir dalam Kajian Bulanan Istiqlal (KIBI) yang dilaksanakan PPPA sebulan sekali ini.

Bunda Hanifah adalah bukti bahwa semangat silaturahmi mampu merobohkan benteng usia dan jarak. Ia tak peduli seberapa jauh kedua kakinya melangkah membawa tubuh tuanya pergi. Baginya, silaturahmi adalah kewajiban yang harus ditunaikannya untuk para sahabatnya di jalan Allah.[mnx]