Syifa Persembahkan 30 Juz Hafalan untuk Ibu

“Sebenarnya hafalan ini untuk ibu saya yang dulu bisa dibilang jauh dari agama,” ujar Syifa.

Syifa Persembahkan 30 Juz Hafalan untuk Ibu

Pagi itu, seluruh santri putri Pesantren Takhassus Daarul Qur’an IX di Yogyakarta terlihat lebih ceria. Gelak tawa mereka terdengar meriah dibandingkan hari-hari biasanya yang tegang saat menyetorkan hafalan. Rupanya ada ustadzah baru dari Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Lampung yang tengah mengabdi di tengah-tengah mereka. Asyifa Ulqolbi (22), namanya.

Perawakannya kecil membuat para santri merasa seumuran dan lebih nyaman untuk berbagi banyak hal. Berbekal hafalan 30 juz dan proses memutqinkan hafalan 15 juz, Syifa mampu menerima setoran hafalan santri dua sesi setiap harinya. Disela kesibukannya, Syifa masih murajaah untuk melanjutkan hafalannya setiap bada Ashar.

“Sebenarnya hafalan ini untuk ibu saya yang dulu bisa dibilang jauh dari agama,” terang Syifa bersama lirikan mata ke atas membendung setitik air di matanya. 

Syifa sudah mulai nyantri sejak kelas empat SD. Berbagai prestasi dan menjadi santri teladan pun hampir selalu ia dapatkan dari setiap pesantren yang pernah ia singgahi. Pondok Pesantren Miftahusalam misalnya, tempat pertama yang hingga kini membuatnya ketagihan nyantri. 

Setahun mengikuti kegiatan pesantren, Syifa menjadi santri pertama yang khatam menghafal Kitab Imriti hingga dipersilakan untuk naik panggung untuk berpidato di depan seluruh warga pesantren. Namun di hari bahagia saat namanya dipanggil menaiki panggung pesantren bersama iringan sorak tepuk tangan bangga para tamu dan warga pesantren, kedua orang tuanya tak hadir. Ternyata hafalan Kitab Imriti belum juga mampu memutus jarak yang terbentang antara dirinya dengan kedua orang tuanya. “Saya haus perhatian orang tua sejak kecil,” katanya dengan nada gemetar. 

Rasa kecewanya dengan kedua orang tua tak lantas membuat Syifa menyerah untuk nyantri. Arahan dari kyainya untuk melanjutkan di Pesantren Hidayatun Mubtadiin saat memasuki SMP pun tetap Syifa jalani meskipun dengan setengah hati, sampai akhirnya ia merasa lelah di penghujung kelulusannya.

Saat itu, menyerah benar-benar mengikat dirinya untuk terus berdiam di dalam rumah hingga enam bulan tanpa hafalan yang bertambah. Hingga satu tanya dari ibundanya terlontar, “Ada apa?” Kalimat yang dinantikan keluar setelah dirinya terdiam setengah tahun. Diskusi terkait kelanjutan pendidikannya baru dimulai. Berbagai tawaran pesantren dan pendidikan formal tingkat SMA dari ibunya sama sekali tak menarik hati Syifa.

Hingga tiba tawaran terakhir di Pondok Pesantren Tahfizh Muhammad Al-Fateeh. Rupanya, titik balik nyantri hadir di sebuah pesantren salaf yang berfokus dalam kegiatan tahfizul Qur’an ini. Semangatnya nyantri kembali bangkit bersama niat mulia untuk menghafal al-Qur’an. Syifa kembali merangkai berbagai prestasi hingga mendapat kepercayaan kyai untuk mengurus seluruh kegiatan pesantren. 

Sebagian waktu senggangnya di pesantren pun masih dimanfaatkan untuk mengajar di pesantren sekitarnya. Ada sekitar 70 santri yang setiap sore aktif belajar tahsin dan tahfizh bersamanya. Pun tawaran kerjasama membangun pesantren agar dikelola Syifa juga sempat menghampirinya saat usianya baru 17 tahun. 

Cobaanya untuk mendekatkan diri dengan al-Qur’an kembali hadir. Hafalannya yang sudah 15 juz tiba-tiba hilang di enam bulan terakhir tahun ketiga nyantri. Syifa sakit. Ia mengidap penyakit mental yang sering membuatnya tak sadarkan diri dan melakukan tindakan di luar batas kewajaran. “Ada ilmu hitam kakek yang menurun ke Ibu, dan ternyata menurun pula di badan saya, sampai saya berpikir bahwa takdir saya bukan untuk menjadi penghafal Qur’an,” ujar Syifa.

Penyakit semakin menguasai Syifa dengan berbagai bisikan untuk keluar dari pesantren karena perasaan tertekan. Berbagai ruqyah dan pengobatan sudah dicoba, hingga nama kecilnya Susanti Diah Ayu Putri terpaksa diganti dengan Asyifa Ulqolbi sampai sekarang. Saran Kyai untuk pindah nyantri di Jawa pun ia lakukan agar segera mendapat kesembuhan.

Tahun 2011, Syifa diantar kyainya untuk nyantri di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an al-Amin di Cilacap, Jawa Tengah. Proses hijrahnya dari kampung halaman ternyata juga belum membuatnya sembuh dari sakit. Berbagai gangguan supranatural justru lebih sering ia rasakan. Hingga akhirnya ia kembali ke Lampung. 

Sembari masa penyembuhan, Syifa kembali nyantri di Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Lampung. Penyakitnya sembuh setelah enam bulan mengikuti seluruh kegiatan di Rumah Tahfizh. Hingga pada Senin, 23 Juli 2018 lalu, Syifa membuktikan ia mampu menyelesaikan hafalan 30 juz-nya. “Itu pertama kalinya saya gemetar menelpon ibu, karena ibu langsung menangis haru sampai mencari hutang untuk tasyakuran khataman,” kata Syifa.

Al-Quran benar-benar mengetuk hati kedua orang tua Syifa. Sejak saat itu, kepercayaan keluarga bertumpu di anak keempat dari lima bersaudara ini. Sebuah kebanggaan, ketika dirinya terus dilibatkan dalam pemecahan masalah-masalah keluarga. Itulah al-Quran dan perjuangan Syifa mendapatkan kasih dari ibunya. Sebuah persembahan surga untuk sang ibu dan ayahandanya, insya Allah.[Runti/mnx]