Ustadz Noor Wachid Titipkan Metode Belajar Ngajinya Lewat Mahasiswa yang Berangkat Sekolah ke Jepang

Ustadz Noor Wachid Titipkan Metode Belajar Ngajinya Lewat Mahasiswa yang Berangkat Sekolah ke Jepang

(Bagian 2)

Oleh Maulana Kurnia Putra & Umi

Noor Wachid tak pernah menyangka bahwa kliping-kliping yang disusunnya sejak 2014 itu kini menjelma sebuah buku metode belajar Al-Qur’an yang mudah dipahami. Beliau menamainya metode A-I-U Houhou. 

Ustadz Noor bukanlah pendatang baru dalam dunia pengajaran Al-Qur’an. Pengalaman membersamai KH. As’ad Humam penemu metode Iqro telah lama dilakoni. Kedekatan Ustadz Noor dengan Kiai As’ad Humam membuat dirinya terbiasa memanggil Kiai As’ad dengan ‘Mbah As’ad’. Ustadz Noor mulai menceritakan keterlibatannya dalam mengembangkan metode Iqro’ yang banyak digunakan sebagai metode membaca Al-Qur’an di seantero negeri bahkan sampai mancanegara.

“Selama 14 tahun Iqro’ itu lahir, Pak As’ad adalah foundernya, yang punya ide dan semangat. Mbah As’ad membentuk tim yang terdiri dari 7 orang untuk mengembangkan metode Iqro’, mereka terdiri dari dosen dan ustadz yang semuanya pintar Al-Qur’an. Sedangkan saya dan beberapa teman membantu Mbah As’ad ketika sosialisasi dan uji coba metode ke pelosok-pelosok kampung.  Kami senengnya kalau ikut keliling Mbah As’ad itu pulangnya mampir untuk makan, waktu  itu saya masih muda,” ungkap Noor Wachid sambil mengenang masa-masa membersamai Kiai As’ad Humam, penemu metode belajar cepat membaca Al-Qur’an Iqro yang juga dianugerahi sebagai pahlawan pemberantas buta huruf Al-Qur’an.

Pengalaman membersamai Kiai As’ad Humam menjadi hal yang sangat berarti bagi Ustadz Noor, terlebih dalam menyusun metode A-I-U Houhou. Ia pun mengenang bahwa metode Iqro dapat dilahirkan setelah 14 tahun mengalami pengembangan dan uji coba. Dalam melakukan berbagai uji coba metode Iqro di berbagai tempat, Ustadz Noor akhirnya mendapatkan banyak pembelajaran cara memahami peserta didik. Di lapangan ia mengaku banyak menemukan karakteristik santri yang berbagai macam. 

“Waktu itu saya belum berkeinginan kuat untuk mengajar, namun karena saya sering ikut keliling uji coba metode, saya jadi menyadari bahwa setiap anak  berbeda-beda niat awal dalam belajar, ada yang sekali diajarkan langsung niat, ada pula yang masih main-main, niatnya nanti. Kadang semangat belajar itu muncul dengan tidak diniati. Itu yang harus disadari oleh para pendidik, ada yang sudah di TK sejak beberapa lama tapi tetap tidak mau mengaji, pun ada yang baru saja tapi langsung giat, ya seperti itu memang karena keinginan belajar siswa itu belum datang,” lanjut Ustadz Noor yang telah mendirikan banyak TPA/TPQ di berbagai daerah ini.

Dalam menghadapi keadaan peserta didik yang berbeda-beda akhirnya ustadz Noor beserta teman-temannya juga membuat kelas yang dinamakan kelas ‘bengkel,’ dimana dalam kelas tersebut anak-anak diizinkan tetap sambil bermain dalam melafadzkan huruf-huruf hijaiyah. Ketika ditanya tentang proses pembuatan metode A-I-U Houhou, Ustadz Noor hanya menjawab bahwa prosesnya sangat beliau nikmati.

“Prosesnya kalau diceritakan asyik, saya membawa ini setiap hari, kemanapun pergi saya bawa,” Ustadz Noor menunjukan bundelan-bundelan kliping mentah sebelum tersusun menjadi metode A-I-U Houhou.

Dalam bundelan kliping itulah Ustadz Noor meminta bantuan dari para ahli-ahli bahasa untuk menerjemahkannya. Hal ini cukup menyulitkan Ustadz Noor karena ia tidak punya kenalan yang ahli bahasa Jepang waktu itu. Hanya ada satu tetangga yang ternyata adalah seorang  ahli bahasa Jepang dan mengajar di berbagai perguruan tinggi pariwisata di Yogyakarta. Ustadz Noor memanggilnya Pak Tugiman, awalnya pak Noor meminta kepada Pak Tugiman untuk menerjemahkan Iqro ke bahasa Jepang, namun karena metode Iqro sudah ada hak cipta akhirnya Pak Tugiman menyarankan agar Ustadz Noor membuat metode sendiri. Apalagi meminta izin untuk pengalih bahasaan metode Iqro juga bukanlah hal yang mudah waktu itu.

Di rumahnya yang berada di Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Ustadz Noor menunjukkan lembaran-lembaran yang berisi tempel-tempelan metode A-I-U Houhou yang dibuatnya sejak tahun 2014 lalu, “Ini foto ibu saya, sengaja fotonya saya tempel disini agar ketika saya mengerjakan juga mendoakan beliau dulu,” ungkap ustadz Noor Wachid sambil menunjukan foto Ibu Maskanah, ibundanya  yang ditempel di halaman paling depan.

Ujian makin keras menimpa Ustadz Noor dalam menyelesaikan metode A-I-U Houhou ketika Pak Tugiman yang selalu membantu Ustadz Noor mengalihbahasakan tulisannya dipanggil ke sisi Allah SWT. Beliau cukup kalut waktu itu, jelas mencari orang yang mau membantunya mengalihbahasakan bukanlah hal mudah. Mungkin banyak kita temui orang yang ahli bahasa tertentu, namun apakah semuanya bisa kita mintai pertolongan. Itulah yang dipikirkan Ustadz Noor, namun keyakinannya telah sangat kuat. Ia sangat yakin bahwa hanya Allah Swt yang menyulitkan dan memudahkan suatu perkara.  

Suatu hari Ustadz Noor akhirnya berinisiatif untuk bertemu dengan turis Jepang, ia pun berjalan-jalan  di sepanjang trotoar Malioboro, hingga ia menemukan sebuah pamflet sebuah festival bahasa Jepang yang digelar di kampus UGM. Ketika membacanya Ustadz Noor serasa tertimpa durian runtuh, harapannya kembali menguat untuk segera menyelesaikan metode A-I-U Houhou. 

Selain mencari para ahli bahasa, berbagai upaya juga telah dilakukan Ustadz Noor untuk menghasilkan metode A-I-U Houhou, tidak hanya upaya-upaya fisik yang beliau lakoni seperti berbagai tantangan untuk menemukan orang-orang yang ahli bahasa dan telaten menggunting-gunting hasil fotocopy-an, namun ustadz Noor juga melakukan berbagai jenis riyadhoh demi kelancaran niat baiknya. Ustadz Noor mengaku selalu menyempatkan sowan ke Pesantren setiap berkunjung ke suatu tempat, beliau biasa mengutarakan maksudnya kepada Kiai di pesantren juga meminta masukan, nasehat, serta doa.  

Pada saat pertama kali penyusun Metode A-I-U, Ustadz Noor selalu membawa bundelan berkas yang sedang disusunnya kemana-mana sambil berkeliling, upaya itu ditempuh Ustadz Noor agar ketika mendapat inspirasi bisa langsung dicatat. Suatu ketika Ustadz Noor membawa berlembar-lembar metode A-I-U Houhou yang telah di kliping itu ke hadapan Gus Hisyam, pengasuh sebuah pesantren besar di Banyuwangi. Setelah menceritakan ikhtiarnya membuat metode belajar untuk orang Jepang, beliau pun mendapat apresiasi dan masukan dari Gus Hisyam. “Tulisan yang baik pahalanya mengalir terus nanti dipetik disurga,” kata Gus Hisyam. 

Tidak main-main, karangan Ustadz Noor juga sudah dikoreksi oleh orang Jepang asli, seorang dosen di negara sakura yang dipertemukan dengan Ustadz Noor di acara Yogyakarta Japan Week yang digelar di kampus UGM. Setiap hari Ustadz Noor datang di acara yang digelar selama tujuh hari itu, “walaupun tidak setiap hari ada yang saya tanyakan tapi disitu saya bisa lihat-lihat dan mempelajari kebudayaan Jepang,” kata Ustadz Noor menunjukan tiket VIP Japan Week yang beliau tempel di kliping tempat coret-coretan merumuskan metode A-I-U Houhou beberapa tahun yang lalu itu.

Ustadz Noor hanya mengutip sana-sini dari buku pelajaran, anehnya orang Jepang yang dimintai tolong dengan senang hati menerjemahkan fotokopian yang disodorkan tanpa bertanya apa pun. Sebelumnya metode A-I-U Houhou telah disebarluaskan oleh Ustadz Noor melalui para jamaah haji tanpa sepeserpun biaya.

Metode A-I-U Houhou diberi nama oleh Pak Tugiman, seorang ahli bahasa Jepang yang merupakan tetangga Ustadz Noor, Houhou adalah nama lain dari ‘metode’ dalam bahasa Jepang. Metode A-I-U Houhou dimaksudkan oleh Ustadz Noor sebagai metode belajar membaca Al-Qur’an dengan riang gembira, cara membacanya juga disertai sedikit nada. Ustadz Noor menyadari bahwa keinginan belajar setiap anak berbeda-beda sehingga yang terpenting adalah mengetahui setiap huruf terlebih dahulu, pengalaman yang beliau dapatkan selama menjadi tim uji coba metode Iqro bersama Kiai As’ad Humam lebih dari 14 tahun yang lalu beliau petik. Ustadz Noor mempraktikkan cara belajar menggunakan metode A-I-U Houhou yang diciptakannya. 

“Apakah ketidakbisaan saya itu akan menjadi penghalang, karena tidak bisa ngetik, tidak bisa bahasa Jepang terus tunduk pada keadaan tura-turu wae, kan ora tho. Harus berjuang gimana caranya supaya bisa gitu tho,” lanjut Ustadz Noor, anak kelima dari Ibu Maskanah itu.

“Semuanya sudah saya siapkan, kertasnya, sudah saya rapikan ini untuk bahasa-bahasa lain, mbok menowo ketemu wong saya sudah siapkan, kan ndak tahu tho,” lanjut Ustadz Noor.

Selain kepada  jamaah haji, Ustadz Noor juga telah mengirimkan naskah ini di Jepang dengan cara menitipkannya pada mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di Jepang. 

“Wong yang memudahkan dan menyulitkan itu semuanya Allah, enteng saja di hati,” dengan sangat mantap Ustadz Noor mengungkapkannya sambil membolak-balik kertas metode A-I-U Houhou. Keyakinan ustadz Noor untuk menyelesaikan metode A-I-U Houhou sudah sangat kuat, haqqul yaqin.

Semasa kecilnya Ustadz Noor memang telah akrab dengan Al-Qur’an, masa kecilnya dihabiskan di kota para wali,  Kudus, dengan setiap bakda maghrib dan sebelum tidur melafazkan Turutan (Metode Baghdadiyah) yang diulang-ulang sampai mata terpejam.  Metode ngaji Turutan ini memang sudah biasa dilakukan masyarakat Jawa ketika sesudah matahari terbenam. 

Setelah meneliti berbagai metode pembelajaran Al-Qur’an, akhirnya terciptalah metode A-I-U Houhou yang dibuat lebih sederhana dan menyesuaikan dengan orang Jepang, taglinenya ‘gembira ria sebelum masuk kelas’. Selain kenangan masa kecilnya yang biasa bermain dengan teman kecilnya yang orang Jepang, Ustadz Noor berkeinginan kuat agar dakwah Al-Qur’an ramai di negeri sakura dan negara-negara lain yang penduduk muslimnya minoritas. Pengajaran Al-Qur’an di negara dengan umat muslim yang terbatas memang tidak semudah di negara kita. Di Jepang sendiri seseorang harus pergi ke masjid tertentu untuk belajar Al-Qur’an, tidak ada tempat-tempat belajar Al-Qur’an seperti TPQ yang jumlahnya beribu-ribu seperti di Indonesia. 

Sebagai seorang muslim yang tinggal di Indonesia kita menjadi amat bersyukur dapat menikmati belajar Al-Qur’an sejak kecil, bahkan tanpa dipungut biaya. Hingga menjadi tanggung jawab bersama untuk mendakwahkannya ke seluruh penjuru dunia. Menjadi langkah yang besar seperti yang dilakukan ustadz Noor. Insya Allah PPPA Daarul Qur’an dan SedekahOnline.com akan terus membersamai Ustadz Noor Wachid dan semuanya yang berikhtiar dalam dakwah Al-Qur’an. Bersama-sama mensyiarkan agama rahmah ini melalui pembelajaran Al-Qur’an untuk seluruh umat muslim di dunia.[]