NASA Sebut Letusan Gunung Agung Bisa Selamatkan Dunia

Menurut NASA, letusan Gunung Agung yang terkategorisasi sebagai gunung berapi justru berpotensi menyelamatkan dunia dari perubahan iklim.

NASA Sebut Letusan Gunung Agung Bisa Selamatkan Dunia

sumber: Tempo

Pada 10 Januari 2019 lalu Gunung Agung di Karangasem, Bali kembali meletus. Letusannya ini sempat membuat wilayah di sekitar gunung yang menurut legenda merupakan potongan Gunung Mahameru di India ini dalam status Level III atau siaga. Warga pun sempat dilarang beraktivitas di sekitar gunung tersebut.

Bila Indonesia dibuat was-was dengan letusan Gunung Agung yang kesekian kalinya sejak 2018, tapi tidak dengan para ilmuwan The National Aeronautics and Space Administration atau yang akrab disebut NASA. Menurut mereka, letusan Gunung Agung yang terkategorisasi sebagai gunung berapi justru berpotensi menyelamatkan dunia dari perubahan iklim. Kok bisa?

Jadi, NASA pada Februari 2018 silam pernah menyebutkan bahwa gunung berapi yang meletus melepaskan partikel kimia ke atmosfer dan diperkirakan dapat digunakan untuk melawan perubahan iklim.

Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan NASA terhadap gunung berapi di seluruh dunia yang terinspirasi dari letusan Gunung Tambora pada 1815. Letusan Tambora yang dahsyat itu telah menyebabkan apa yang dikenal dengan “musim dingin vulkanik” atau “Tahun Tanpa Musim Panas” yang kemudian menyebabkan salju turun di Albany, New York, pada Juni 1816.

Letusan gunung berapi yang terkategori dahsyat selanjutnya adalah letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 yang disebut sebagai letusan terbesar abad ke-20. Pinatubo menyemburkan satu kubik mil batu dan abu ke udara dan 20 juta ton gas belerang dioksida ke atmosfer.

Gas yang disemburkan Pinatubo menyebar ke seluruh dunia. Lalu terjadi reaksi kimia ketika gas tersebut bercampur dengan uap air yang kemudian menghasilkan aerosol. Lalu aerosol itu kemudian memantulkan dan menyebarkan cahaya yang cukup jauh dari bumi sehingga menyebabkan suhu global rata-rata turun satu derajat Fahrenheit selama beberapa tahun.

Nah, letusan Gunung Agung dianggap identik dengan Pinatubo. NASA berharap bisa mempelajari efeknya selama bertahun-tahun yang akan datang dengan mengirim balon ke udara yang dilengkapi perangkat untuk mengukur dampak letusan gunung berapi di atmosfer bumi. [Intisari/mnx)