Inspirasi dari Nela

Dari sudut Pulau Kalimantan Timur tepatnya di Kabupaten Berau, lahir seorang penghafal Qur’an yang manis nan lembut

Inspirasi dari Nela

Dari sudut Pulau Kalimantan Timur tepatnya di Kabupaten Berau, lahir seorang penghafal Qur’an yang manis nan lembut. Ia adalah Nela Ashari (22). Kegiatan mengaji sudah melekat dalam dirinya sejak kecil. Bersama teman-teman di kampung, Nela kecil tak pernah bosan melafalkan ayat-ayat suci Alqur’an dan belajar ilmu Islam setiap hari.

Saat usianya beranjak dewasa, Nela pun memiliki keinginan kuat menjadi hafizah. Ia rela merantau jauh ke Jawa Timur, memulai hafalannya dengan menjadi santri Pondok Pesantren Salaf Al Qur’an Asy Syadzili, Malang.

Setelah lulus dan melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Nela yang baru memiliki hafalan 20 juz kala itu, langsung mendaftarkan diri menjadi santri Rumah Tahfidz Mahasiswi PPPA Daarul Qur’an Malang.

Nela sangat menyadari pentingnya mencari ilmu di masa muda. Selama tujuh tahun merantau, begitu banyak ilmu yang ia dapat. Selain belajar kitab salafiyah di rumah tahfizh, Nela juga sempat belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri.

Kewajiban untuk mencari ilmu di kampusnya juga tak pernah ia tinggalkan. Salah satu prestasi Nela adalah menjadi juara 2 lomba Tafsir Alqur'an Bahasa Inggris se-Provinsi Kalimantan Timur. “Nela mau membuktikan bahwa sambil menghafal Al Qur’an Nela juga bisa berprestasi,” ujarnya.

Alhamdulillah, Nela kini telah berhasil menyelesaikan kuliahnya. Indeks Prestasi Kumlatif (IPK) yang didapatnya mencapai 3,82 lulus dengan pujian. Bahkan selain lulus kuliah, pada Februrari 2018 ini Nela juga telah menyelesaikan hafalan Qur’annya, ia telah khatam 30 juz. Subhanallah.

Nela merupakan satu dari empat santri Rumah Tahfizh Mahasiswi yang telah khatam 30 juz. Ia punya mimpi memiliki Pondok Pesantren Alqur’an di Berau, Kalimantan Timur. InsyaAllah, cita-citanya akan terwujud karena orangtua di kampung telah menyiapkan tanah untuk Nela membangun persantren. “Dari semua percapaian yang telah Nela dapat, tentu saja motivator terbaik adalah do’a dan dukungan dari ayah dan ibu,” ucap Nela.

MasyaAllah, ketika generasi muda diusianya berlomba-lomba mengejar dunia baik karir, kedudukan, kesenangan, popularitas, namun Nela memilih impian yang berbeda. Ia telah mengazamkan dalam dirinya untuk cita-cita yang bermanfaat dan kekal di akhirat kelak.

Terima kasih untuk donatur, jemaah dan masyarakat Indonesia yang telah mendukung berjalannya dakwah Qur’an melalui rumah tahfizh. Nela mengajarkan kita semua bahwa menghafal Alqur’an bukan soal umur, anak pesantren, anak kiyai, hidup di lingkungan Islami dan alasan pesimis lainnya. Tetapi tentang usaha dan kesungguhan untuk dekat dan mencintai Alqur’an.